ESAI · KEHIDUPAN

Merayakan May Day, Melupakan Intifada

Hari ini kantor saya tutup. Namun, senin pagi, pintu lobi akan kembali digeser. Jika tidak dipecat, kemungkinan saya akan kembali duduk di kursi yang sama. Merangkai kode. Kode itu bekerja. Akhirnya, saya menerima gaji tiap akhir bulan.

Zikra Wahyudi ·Mei 2026 ·7 menit

Foto utama untuk “Merayakan May Day, Melupakan Intifada”

Setiap May Day, kantor saya tutup. Saya menulis esai ini dari sebuah kafe di kawasan Jakarta Selatan.

DULU, pada May Day 2018, saya menulis tajuk rencana untuk media kampus. Judulnya tegak: "May Day adalah Intifada". Saya mengetiknya pukul dua pagi, di sekretariat lembaga yang disesaki tumpukan piring kotor di sudut ruangan.

Dalam editorial itu, saya berargumen bahwa ada empat golongan yang wajib bersatu menggempur kapital: buruh, tani, mahasiswa, dan kaum miskin kota. Saya melabeli kapitalis sebagai parasit pemalas yang kerjanya cuma menghitung akumulasi profit. Saya menutup tulisan itu dengan kalimat heroik: "Sampai akhir sejarah adalah milik kita."

Pagi harinya, saya memaksa meja redaksi untuk segera menerbitkannya. Siangnya saya turun ke jalan ikut aksi. Sorenya saya ditangkap polisi.

Apa yang terjadi setelahnya tak perlu didadar terlalu rinci. Beberapa bulan kemudian saya bebas, dan akhirnya menyelesaikan kuliah meski jauh dari kata tepat waktu.

Selisih Hasil Kerja

Setelah lulus, saya hijrah ke Jakarta dan melamar kerja di sebuah perusahaan teknologi pertanian (agritech). Saat wawancara, rekruter menanyakan celah waktu yang kosong di CV saya. Saya menjawab bahwa saya sedang mengurus proyek pribadi.

Itu kebohongan, dan saya tahu persis itu bohong. Namun, saya diterima.

Akhirnya, saya menjadi seorang pekerja di perusahaan teknologi. Saya merangkai kode yang pada akhirnya akan bekerja. Saya pun menerima gaji karenanya.

Berdasarkan tolok ukur industri tahun 2025, median pendapatan per karyawan (revenue per employee) di perusahaan teknologi swasta menyentuh angka Rp2 miliar per tahun. Bagi raksasa teknologi yang sudah melantai di bursa saham, angkanya bisa meroket hingga Rp6 miliar ke atas. Sementara itu, gaji pekerja data level menengah ke atas di Jakarta hanya berkisar di rentang Rp400 juta hingga Rp600 juta per tahun.

Ada rasio ketimpangan 4:1 hingga 5:1 di level startup, dan membengkak jadi 10:1 di perusahaan multinasional. Saya memang tidak memegang buku kas perusahaan tempat saya bekerja, tapi saya tahu cukup banyak untuk menebak bahwa rasionya tak jauh dari angka-angka itu.

Selisih miliaran rupiah antara nilai yang saya hasilkan dan nominal yang saya terima tidak menguap begitu saja. Selisih itu masuk ke kantong orang lain.

Eufemisme Korporat

Di pabrik garmen, rasio 3:1 antara nilai yang diciptakan buruh dan upah riil yang mereka terima secara gamblang disebut sebagai penghisapan. Di kantor saya, rasio yang jauh lebih besar itu dibungkus dengan eufemisme "total reward yang kompetitif".

Mungkin perbedaannya terletak pada fasilitas subsidi kesehatan mental yang ditanggung perusahaan. Mungkin pada kursi ergonomis yang harganya setara dengan sewa kos buruh pabrik selama setengah tahun. Atau, mungkin pada penggunaan bahasa Inggris untuk menamai jabatan.

Saya ini seorang pekerja data. Mengucapkannya dalam bahasa Indonesia membuatnya terdengar seperti sebuah realitas pekerja kerah biru. Namun, membungkusnya dengan bahasa Inggris membuatnya terdengar seolah-olah itu sesuatu yang esensial dan penting.

Bahasa adalah cara terbaik kita ditipu. Saya bukan buruh, dalam kamus korporat di kantor saya. Saya adalah "talent".

Gaji saya bukan upah, melainkan "paket kompensasi". Selisih antara nilai yang saya produksi dan yang saya bawa pulang bukan lagi nilai lebih yang dihisap majikan, melainkan "investasi perusahaan untuk pertumbuhan jangka panjang". Dan saya, sebagai talent, akan kecipratan untung lewat opsi saham yang baru akan cair jika perusahaan tumbuh—dan jika saya belum didepak sebelum masa vesting itu tiba.

Tidak satu pun dari kalimat-kalimat korporat itu adalah kebohongan mutlak, tetapi tidak satu pun darinya adalah kebenaran. Kalimat-kalimat itu hanyalah cara agar kebenaran dibuat menjadi tidak kasatmata.

Romantisasi Karier

Selama bekerja, saya telah menjadi saksi mata tiga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Setiap kali itu terjadi, perusahaan hanya mengirim satu surat elektronik. Setiap kali, beberapa kolega yang terlampau yakin bahwa dirinya tak tergantikan, ditendang keluar hanya dalam hitungan menit.

Setiap kali pula, opsi saham yang dijanjikan kepada mereka yang diusir berubah jadi tak lebih dari selembar kertas tisu. Di saat yang sama, saya tetap menempelkan kartu identitas dan masuk kerja keesokan paginya. Sejak menetap di Jakarta, saya sudah tiga kali kutu loncat antarperusahaan, masing-masing dengan kenaikan gaji 30 persen.

Teman-teman sebaya di LinkedIn meromantisasi ini sebagai "perjalanan pertumbuhan karier". Hari ini, saya lebih suka menyebutnya: menjual diri kepada pembeli yang berani bayar lebih mahal. Toh, dari dua istilah itu, tak ada satu pun yang menjadikannya sebuah bentuk perlawanan.

Kembali kepada editorial saya di tahun 2018. Di situ, saya menempatkan petani sebagai salah satu dari empat pilar yang harus bersatu melawan kapital. Dulu, saya jarang berinteraksi dengan petani; saya hanya membayangkan penderitaan mereka dari balik ruang redaksi di Yogyakarta. Sekarang, saya bekerja delapan jam sehari, mengekstrak keringat dan lahan mereka menjadi barisan data untuk dipresentasikan ke tim bisnis.

Di atas kertas, petani-petani itu terlihat jauh lebih dihisap daripada saya. Mereka tidak punya kosakata bahasa Inggris yang sanggup menyamarkan kelas sosial mereka. Mereka tidak melabeli diri sebagai talent.

Mereka menyebut diri mereka petani, dan tahu betul bahwa mereka adalah petani. Tak ada satu pun paket kompensasi yang bisa membuat mereka lupa diri. Paradoksnya, justru karena itulah saya, dalam artian tertentu, jauh lebih dieksploitasi daripada mereka.

Kapital yang Membayarmu

Bukan karena nominal selisih angkanya lebih raksasa, melainkan karena saya adalah produk yang direkayasa agar tidak menyadari bahwa selisih itu eksis. Saya memang keliru pada May Day 2018, tapi bukan dengan cara yang dulu saya asumsikan. Dulu saya pikir saya keliru karena terlalu naif dan reaktif.

Sekarang saya sadar, saya keliru karena membayangkan kapital sebagai monster yang harus dilawan dari luar benteng. Faktanya, kapital tidak pernah menantang saya untuk melawan. Kapital justru meminta saya bekerja, dan membayar saya cukup mahal agar ide perlawanan terdengar konyol.

Sistem ini mencekoki saya dengan begitu banyak bahasa untuk menjustifikasi eksploitasi. Pada akhirnya, bahasa itu sendiri menjadi mekanisme koping saya untuk pasrah menerimanya. Saya adalah hasil produksi sistem ini, padahal tidak ada yang menodongkan pistol ke kepala saya.

Dan justru di situlah letak inti masalahnya. Anak 21 tahun yang menulis tajuk rencana itu keliru menuduh kapitalis sebagai lintah darat pemalas yang cuma bisa menghitung uang. Ia salah besar.

Kapitalis hari ini bekerja sangat keras. Mereka yang malas dan hanya bisa menghitung uang justru orang-orang seperti saya. Saya menulis kode, tertidur, nongkrong di kafe, pulang, lalu menulis kode lagi.

Dulu saya tidak benar-benar mengerti apa itu kapital. Sejujurnya, saya tidak yakin saya sudah memahaminya sekarang.

Absennya Serikat Pekerja

May Day bukanlah intifada. May Day adalah monumen pengingat bahwa di Chicago pada 1887, empat nyawa melayang di tiang gantung karena menuntut delapan jam kerja sehari. Hari ini, di kantor-kantor teknologi yang berbaik hati memberi pegawainya libur nasional, orang-orang masih terus dihisap nilai lebihnya.

Penghisapan itu kini menggunakan metode yang jauh lebih halus dan kalkulasi yang lebih efisien. Ia juga dilakukan di atas kursi ergonomis yang jauh lebih empuk.

Saya tidak akan sudi kembali ke penjara. Saya tidak lagi memiliki sisa keberanian semacam itu. Saya sudah cukup tua untuk membedah fakta bahwa keberanian macam itu mungkin memang tidak pernah benar-benar eksis.

Mungkin yang ada saat itu hanyalah seorang anak berusia 21 tahun yang sedang putus asa mencari sesuatu untuk diimani. Masa muda selalu menuntut sebuah kredo. Kadang kredo itu bernama Karl Marx.

Di lain waktu, kredo itu adalah logo perusahaan tempat mereka bekerja. Perbedaannya, sering kali, hanya terletak pada siapa yang bersedia mendanai uang saku mereka.

Ada beberapa pertanyaan yang tetap gagal saya retas pada May Day tahun ini. Kenapa pekerja teknologi di Indonesia tidak pernah punya serikat pekerja? Kenapa merumuskan pertanyaan itu saja rasanya sudah mengundang tawa sinis, bahkan saat jemari saya mengetiknya di atas keyboard?

Operasi psikologis macam apa yang telah ditanamkan ke dalam kepala saya? Saya sanggup menatap data statistik, membandingkan upah tiap karyawan dengan slip gaji saya, dan menghitung selisih rasio yang gila itu. Lalu, saya kembali bekerja keesokan harinya seolah-olah perampokan tersebut tidak ada hubungannya dengan hidup saya.

Hari ini kantor saya tutup. Namun, senin pagi, pintu lobi akan kembali digeser. Jika tidak dipecat, kemungkinan saya akan kembali duduk di kursi yang sama. Merangkai kode. Kode itu bekerja. Akhirnya, saya menerima gaji tiap akhir bulan.

Dan, selisih antara nilai yang saya ciptakan dengan upah yang saya terima akan masuk ke kantong orang lain, persis seperti gaji bulan sebelumnya dan sebelumnya lagi. Berulang kali.