ESAI · MUSIK

Lagu Pengantar Tidur: Yang Populer dan Yang Terlupakan

Lullaby sering dianggap sekadar pelengkap untuk menidurkan anak. Padahal, bila ditelusuri lebih dalam, lullaby ternyata menyimpan cara pandang sebuah budaya terhadap relasi orang tua dan anak, dan ekspektasi yang diharapkan.

røde. ·Januari 2026 ·8 menit

Foto utama untuk “Lagu Pengantar Tidur: Yang Populer dan Yang Terlupakan”

Meski tidak semua anak berkesempatan terlelap dengan lagu pengantar tidur (lullaby), lullaby sering dianggap sekadar pelengkap untuk menidurkan anak. Padahal, bila ditelusuri lebih dalam, lullaby ternyata menyimpan cara pandang sebuah budaya terhadap relasi orang tua-anak dan ekspektasi yang diharapkan. Lebih dari itu, lullaby juga terikat dengan kondisi struktural suatu masyarakat, sebab ia berkelindan dengan kebiasaan bagaimana masyarakat merawat dan meneruskan pengetahuan, apa saja institusi yang menopangnya, dan perubahan pola pengasuhan anak seperti apa yang membuat lullaby bertahan. Seluruh variabel itu dapat amati dalam keseharian, yang akhirnya memengaruhi lagu apa yang akan dinyanyikan orang tua sebelum anak tertidur pulas.

Nina Bobo dan Urdo-Urdo dari masyarakat Simalungun misalnya. Keduanya menggunakan tempo lambat, berulang, intonasi lembut, dan kerap hanya dinyanyikan tanpa instrumen sambil menggendong atau mengayun anak. Fungsi relaksasinya sama, namun konstruk isinya berbeda. Dengan kata lain, dua nyanyian dengan fungsi serupa bisa membawa muatan nilai yang sangat berbeda.

Nina Bobo yang kini dikenal sebagai lagu pengantar tidur yang populer lintas generasi, memuat lirik yang sederhana namun problematis jika dibaca dengan lebih cermat. Frasa seperti “kalau tidak bobo digigit nyamuk” memuat ancaman ringan sebagai alat pengatur perilaku. Anak ditenangkan sekaligus didisiplinkan melalui rasa takut kecil yang sekilas lucu. Dalam konteks tertentu, ini mungkin efektif dan tidak selalu disadari sebagai kekerasan diskursif karena demikianlah relasi kuasa bekerja secara halus.

Urdo-Urdo mengantarkan tidur dengan cara yang berbeda. Kajian milik Sarah Dewanti Purba menjelaskan bahwa Urdo-Urdo bukan hanya nyanyian lelap, tetapi juga medium penyampaian nasihat, doa, dan harapan orang tua kepada anak. Perumpamaan yang digunakan begitu beragam, mulai dari ayam sebagai simbol keteraturan orang Simalungun, padi dan lumbung sebagai simbol kerja keras dan tanggung jawab, rotan sebagai gambaran pertumbuhan dan aspirasi, bahkan sebagai pengingat untuk tidak menjadi sumber petaka bagi lingkungan sekitar.

Ur… ma lo dayok…, Ur… ma lo dayok (sampiran)

Modom ma ham, na modom anakku/ boruku

(tidurlah ya anakku/ putriku)

Ulang be ham ringisan

(jangan lagi menangis)

Ur… ma lo dayok…, Ur… ma lo dayok (sampiran)

Podas ma ham marganjang anakku/ boruku

(cepatlah besar ya anakku/ putriku; raihlah cita-citamu setinggi-tingginya ya anak)

Marganjang hansa hotang

(panjang seperti panjangnya rotan, yang terus semakin panjang)

Pori pe ham marganjang anakku/ borukku

(tapi anakku/ putriku, kalaupun kamu menjadi orang besar nantinya)

Ulang sundol bukkulan

(jangan karena panjangnya sampai merusak asbes rumah; janganlah sampai kebesaranmu membuat orang lain tergangggu atau tidak menjadi berkat)

Ur… ma lo dayok…, Ur… ma lo dayok (sampiran)

Podas ma ham marbaggal anakku/ boruku

(cepatlah besar ya anakku/ putriku; raihlah cita-citamu setinggi-tingginya ya nak)

Marbaggal hansa hobon

(besar seperti lumbung padi yang siap sedia saat musim paceklik menimpa)

Pori pe ham marbaggal anakku/ boruku

(tapi anakku/ putriku, kalaupun kamu menjadi orang besar nantinya)

Ulang sukkot i labah

(janganlah karena begitu besarnya lumbung, sampai merusak pintu agar lumbung tersebut dapat dibawa keluar dari rumah; janganlah kiranya kiranya kesuksesanmu membawa petaka bagi lingkungan sekitarmu)

Ur… ma lo dayok…, Ur… ma lo dayok (sampiran)

Lirik Urdo-Urdo memuat pandangan hidup agraris dan nilai sosial masyarakat Simalungun. Anak tidak hanya ditidurkan, tetapi “diperkenalkan” pada dunia yang diharapkan tidak suram akan ia masuki kelak–menjadi orang yang ada gunanya.

Perbedaan lirik Nina Bobo dan Urdo-Urdo mencerminkan relasi orang tua dan anak yang berbeda. Nina Bobo memang cenderung pragmatis dan sederhana, liriknya terasa seperti orang tua berbicara soal perintah dan kontrol. Penilaian ini tentu bersifat interpretatif dan tidak sepenuhnya lepas dari preferensi penulis. Namun, jika didekati dengan merujuk sejumlah ulasan dan kajian populer yang menelusuri sejarah kemunculannya, kesan pragmatis tersebut menjadi lebih dapat dipahami secara kontekstual.

Nina Bobo disinyalir mulai berkembang ketika komunitas keturunan Portugis bermigrasi dan menetap di Batavia (Kampung Tugu) setelah kekuasaan politik mereka tersingkir oleh Belanda. Nina Bobo awalnya berbentuk keroncong, sebuah tradisi musikal kreol campuran Portugis dan Melayu. Jika memang Nina Bobo lahir dari tradisi pengasuhan yang tidak sepenuhnya berakar pada pengalaman orang tua lokal, wajar apabila liriknya tidak menunjukkan keakraban lanskap sosial-ekologis setempat.

Ketidakhadiran detail lingkungan dalam lirik Nina Bobo menarik untuk dicermati, karena membuka dugaan bahwa perspektif pengasuhan yang dihadirkan berangkat dari kehidupan domestik yang relatif terpisah dari aktivitas luar. Ruang hidup masyarakat kolonial terbagi secara rasial, menempatkan aktivitas luar ruangan (ladang, kebun, dan kerja fisik) dekat dengan orang pribumi, sedangkan orang Eropa, khususnya perempuan, di dalam rumah.

Di kalangan orang Eropa di tanah jajahan, pola semacam ini sejalan dengan nilai-nilai rumah tangga borjuis Eropa abad ke-19 yang memposisikan perempuan Eropa dengan kenyamanan, keamanan, dan jauh dari kerja serabutan. Frasa “digigit nyamuk” dalam lirik Nina Bobo tidak semata-mata harus dibaca sebagai ancaman koersif, melainkan bisa juga dipahami sebagai ekspresi kecemasan domestik ibu Eropa terhadap lingkungan tropis yang asing, mengingat nyamuk dan penyakit tropis yang dihasilkannya telah menjadi salah satu kecemasan primer koloni orang Eropa di tanah jajahan.

Berbeda dengan Nina Bobo, Urdo-Urdo lebih bersifat relasional dan reflektif, seolah orang tua berbicara kepada anak sebagai subjek masa depan, meskipun anak belum memahami kata dan masih seperti kanvas kosong. Lirik Urdo-Urdo sudah menganggap anak sebagai manusia yang sedang diperkenalkan pada alam hidup dan lingkungan sekitarnya, bukan sekadar tubuh kecil yang rentan dan diharapkan diam serta patuh.

Jika Urdo-Urdo lebih relevan dengan kehidupan masyarakat di Indonesia, kenapa dua lagu ini tak mendapat poularitas yang sama? Sejak lepas dari kolonialisme, politik dan persaingan senyap etnisitas di Indonesia tidak pernah kurang. Jawa yang dari segi ketokohan dan geografis telah memainkan peran sentral. Urdo-Urdo sebagai produk budaya Simalungun jelas hampir mustahil menembus persaingan ini. Bahkan, di komunitasnya sendiri, Urdo-Urdo perlahan luntur menuju hilang. Inilah yang membedakan Urdo-Urdo dan Nina Bobo.

Nina Bobo memiliki jejak yang panjang dan relatif terdokumentasi. Lagu ini telah beredar sejak awal abad ke-20, bahkan sebelum dikenal luas dengan liriknya. Pada 1904, sebuah iklan di surat kabar Hindia di Surabaya mencatat bahwa De Bont & Co.—pemasok “mesin bicara” pertama di kota tersebut—menawarkan rekaman-rekaman repertoar lokal untuk dijual. Nina Bobo adalah salah satunya. Nina Bobo juga sering dibawakan dalam pertunjukan komedie stamboel (teater musikal populer di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20), dan ini membuat popularitasnya meluas tidak hanya di Jawa, tetapi juga di wilayah luar Jawa.

Popularitasnya menguat pada dekade-dekade berikutnya. Pada 1961, Nina Bobo dipopulerkan secara luas oleh Anneke Grönloh, penyanyi berdarah Indonesia–Belanda, yang rekamannya beredar lintas Asia dan Eropa. Di tahun-tahun setelahnya, lagu ini kembali dihidupkan melalui berbagai versi dan interpretasi, antara lain oleh Claudia Patacca pada 2007 dan 2011, serta oleh Wieteke van Dort dan Jack Jersey—figur-figur musik Indo-Belanda yang turut menjaga keberlanjutan repertoar ini dalam ingatan publik.

Kemudahan akses teknologi rekaman di kalangan masyarakat Eropa di tanah koloni memungkinkan Nina Bobo mengalami penyebaran dan preservasi yang jauh lebih mapan dibanding Urdo-Urdo. Ia tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga direkam, diproduksi ulang, dan diedarkan melalui medium komersial dan institusional. Salah satu penopang formal terkuatnya justru datang dari sekolah. Bahkan pada tahun 2000-an, saya masih ingat bagaimana lagu ini dinyanyikan guru taman kanak-kanak sebelum kami tidur siang. Dalam situasi itu, Nina Bobo melampaui relasi intim orang tua–anak dan menjelma menjadi bagian dari memori kolektif, yang dikenali bersama bahkan oleh mereka yang tidak lagi mendengarnya di rumah.

Urdo-Urdo, sementara itu, dirawat dan diperdengarkan secara markhatab babah atau gaulnya kita sebut sebagai folklore. Urdo-Urdo tidak lepas dari kuatnya tradisi kelisanan (orality) di kalangan masyarakat kita. Interaksinya sangat mengandalkan peran orang tua, bertumpu pada memori dan ingatan yang sangat sarat dengan usia. Meski saya mengalaminya, saya jauh lebih mengingat lirik lagu Nina Bobo, dibanding tembang maha bijak yang baru saya sadari belakangan ini.

Urdo-Urdo juga makin senyap karena adanya pola pengasuhan yang berubah. Ketika ibu kini dapat mengecap akses kerja di ruang publik, ternyata selalu ada biaya tak kasatmata yang menyertainya, yaitu hilangnya kesempatan bagi anak untuk diantar tidur bersama Urdo-Urdo, yang mungkin lagu-lagu semacam ini akan benar baru direfleksikan saat telah dewasa nanti. Namun, bukan berarti pula, bahwa perempuan harus kembali ke ruang domestik. Pada konteks ini, apa yang kita anggap sebagai kemajuan atau kemunduran budaya, selalu sarat akan konsekuensi, dan kita tidak pernah bisa lari darinya.

Tampak jelas bahwa terawat atau terlupakannya sebuah lagu sangat dipengaruhi oleh tradisi dan teknologi. Keberlanjutan praktik budaya atau kebiasaan takkan mungkin bertahan tanpa sebuah penopang. Meski penyebaran dan perawatannya berbeda, fungsi dua lullaby ini sama-sama berakar dari musik sebagai alat perawatan dan pengikat sosial. Namun, Urdo-Urdo menunjukkan bahwa lullaby tidak harus berhenti pada regulasi emosi jangka pendek. Lullaby bisa menjadi sarana belajar paling awal, bahkan sebelum anak mampu berbicara atau berpikir secara simbolik.

Perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk menilai salah satu sebagai “lebih baik” secara mutlak. Namun, tak ada hari dimana kita tidak mengambil keputusan, pada akhirnya kita memang harus memilih. Terlepas apapun keputusannya, opsi-opsi yang ada perlu didekati untuk mengukur mana yang lebih patut dijadikan preferensi, sembari belajar mengelola bias-bias yang mungkin saja muncul.

Nina Bobo dan Urdo-Urdo lahir dari konteks sosial yang berbeda dan merefleksikan kesadaran ruang hidup yang berbeda pula. Namun jika kita bertanya musik mana yang memuat pandangan lebih jauh tentang masa depan anak, jelas Urdo-Urdo rasanya lebih menjawab. Urdo-Urdo mengingatkan kita bahwa musik, sejak awal, bukan hanya alat untuk menenangkan, tetapi juga medium untuk membayangkan dan membentuk manusia lain.

Di titik ini, tembang Urdo-Urdo telah menjadi arsip nilai, cara mencintai, dan cara sebuah budaya berbicara kepada generasi berikutnya, bahkan ketika generasi itu belum bisa menjawab apa pun. Meski muatan nilai-nilai seperti ini seringkali menjadi karya yatim piatu–tak bertuan, tak berjejak, dan tak punya penopang, hingga akhirnya hanya tersisa sebagai ingatan samar di kepala orang orang yang kebetulan pernah mendengarnya.