Hari itu bermula dari notifikasi kawan: kita akan berjumpa di titik sebuah kota, tepatnya di jalan yang namanya diambil dari istri presiden pertama (atau mungkin era kolonial?). Setelahnya, saya mulai mempersenjatai diri. Diawali bangun pagi, memetakan rute, menganalisis kondisi diri, hingga menyiapkan logistik.
Saya meminta saran sana-sini, mulai dari kawan serumah hingga ChatGPT. Ketika tekad sudah bulat dan kaki mantap melangkah ke kamar mandi, hasrat purba memprovokasi: "Sebatang lagi, baru mandi."
Akibat menunda, fakta pun terbalik. Apa yang dipikirkan tidak sesuai kenyataan. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Ingin rasanya memutar waktu, tapi apalah daya, nasi sudah digoreng—lengkap dengan ayam dan telur. Tak ada yang bisa diharapkan selain melawan pikiran-pikiran liar. Apakah ini karma dari falsafah "alon-alon asal klakson"? Begitulah dialog batin saya sejenak.
Tersadar dari lamunan, saya bergegas menyiapkan item wajib untuk perjalanan berkilo-kilometer ini.
Pertama, kartu e-money. Konon, kartu ini kunci akses transportasi umum. Jika beruntung, ia penyelamat logistik di akhir bulan yang mencekik. Kartu sakti bagi mereka yang bernyawa (kecuali hewan dan tumbuhan) dan membantu mereka yang tak punya uang digital. Sayangnya, kartu ini belum bisa menghidupkan orang mati atau membuat kita berjalan di atas air.
Kedua, termos. Kawan saya menyuruh membawanya agar terlihat sebagai manusia berbudaya abad ini. Mungkin ini sisa evolusi nenek moyang tentang membawa bekal air saat migrasi, atau sekadar bentuk pemberontakan kecil.
Drama di Peron
Rokok kretek masih menempel di bibir, asapnya memedihkan mata. Dalam benak, ingin rasanya mengoleskan odol di bawah kelopak mata biar perihnya hilang—sebuah ritual tiap pasca-demonstrasi. Saya memesan ojek online (ojol), berpamitan pada kawan serumah yang berpesan, "Hati-hati, jangan tersesat."
Dengan yakin, saya melangkah menemui abang ojol menuju stasiun. Di sana, langkah dipercepat. Tap kartu, lalu menunggu di peron seberang karena kereta ada di situ. Sambil menunggu, mata tertuju pada Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) yang memegang rantai pemisah antara "di sini" dan "di sana".
Saat kereta tak lagi lewat, saya bersiap menyeberang. Tiba-tiba Polsuska bersuara, "Yang masih muda dan kuat silakan lewat jalan bawah (underpass), di sini khusus lansia dan anak-anak."
Sontak batin berteriak, "Kenapa tidak bilang dari tadi?!" Mata ini sudah lelah mencari balon hijau. Tapi tak apalah, anggap saja membakar kalori demi sepuluh ribu langkah, diiringi lagu Buruh Tani dalam lamunan.
Bagaikan unta merindukan Sahara, ular besi itu pun tiba dengan tumpukan manusia di dalamnya. Saya menerjang masuk ke perut ular besi yang sudah kenyang itu. Berdesakan, berdiri.
Di dalam KRL
Benak kembali bertanya, "Apakah ini yang diramalkan Jayabaya tentang tanah Jawa kalungan wesi?" Di dalam perut besi ini, aroma minyak telon bercampur bau asap knalpot. Tubuh saling beradu pundak dan lengan, mengantarkan diri pada pemodal yang mencari untung (cue musik: Donna Donna underground...). Energi mereka habis diperas, lelah oleh sang ular besi.
Kereta melaju dan berhenti di stasiun tujuan. Mata menargetkan kursi kosong. Baru terisi tiga orang, pantat segera meluncur demi "merebut kembali" hak duduk. Kaki sudah tak bisa kompromi, urat sudah berakar varises. Hati lega meski duduk berdesakan. Pintu tertutup, ular besi berjalan lagi. Mata memberat, perjalanan masih jauh.
Mendadak mata terpejam, mulut terkunci, jiwa serasa keluar tubuh. Namun, moralitas menggoyang kesadaran: ada lansia berdiri di depan. Tiba-tiba Patrick Star imajiner datang menampar dan berujar, "Hidup itu memang tidak adil, jadi biasakan dirimu." Entah dari mana dia muncul, lalu pergi tanpa kata, data, atau nota.
Mata dipaksa tertutup agar kursi tidak direbut. Apakah ini tahap evolusi moral? Dulu, kita rajin memberi kursi. Seiring waktu dan lelahnya perjalanan berkilo-kilometer, prinsip berubah menjadi "berdikari" (berdiri di kaki sendiri). Lelah ini tak bisa dilaporkan ke Ombudsman atau LBH. Bahkan jika dikabarkan pada ombak dan karang, semua tetap membisu.
Sentakan suara ngorok tipis membangunkan saya. Rasanya tidur seperti ayam; ingin mengibaskan tangan dan berkokok, tapi sadar basis materi saya masih manusia. Saya mengangkat kepala, membuka sebelah headset untuk mengecek stasiun.
Saat itulah mata bertatapan dengan lansia. Terbesit lagu Ismail Marzuki, "tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata." Sontak saya bangkit dari kursi terkutuk itu, mempersilakan beliau duduk. Ia tersenyum malu.
Kini saya kembali berdiri, berpegang pada tali kereta—satu-satunya hal yang bisa dicapai saat ini. Selebihnya hanya kepercayaan tentang odol di kelopak mata untuk meredakan perih gas air mata kehidupan.
Di tengah pengap, saya melihat sosok mirip Roronoa Zoro dari One Piece—mungkin sedang cosplay. Ia berujar pada kawannya, "Ketika dunia ternyata jahat padamu, maka kau harus menghadapinya. Tidak ada seorang pun yang menyelamatkanmu jika kamu tidak berusaha."
Tanpa sadar, musik di headset memutar lirik: "Bangkitkan gelora hasratmu, wujudkan surga di dunia... Pemimpin takkan menyelamatkan, hanya diri kita yang mampu."
Belantara Transit
Stasiun transit sudah dekat. Kerumunan di ujung gerbong bersiap seperti moshpit. Lagu Wake the Dead dari Comeback Kid mengalun, memacu adrenalin. Pintu terbuka, suasananya seperti wall of death. Perjuangan keluar sangat menguras tenaga.
Sampai di luar, saya sempat bingung mencari jalur transit. Di sinilah warisan evolusi manusia purba bekerja: bermodal naluri menelusuri rute ke MRT tanpa bertanya.
Benar saja, saya tersesat di belantara metropolitan. Apakah Neanderthal punah 40.000 tahun lalu karena malu bertanya?
Atau mungkin ini Doorway Effect? Konon, otak menganggap perpindahan ruangan sebagai batas peristiwa, sehingga memori di ruangan sebelumnya terhapus untuk memberi ruang informasi baru. Efeknya: Anda lupa mau ngapain. Ini cara otak mengorganisir informasi, bukan masalah serius—biasanya ingatan kembali jika balik ke ruangan awal. Tapi masa iya saya harus balik ke stasiun asal?
Lelah menyertai, waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Saya memaksa diri bertanya pada seorang bapak tentang jalur MRT. Jawabannya puitis tapi menohok, "Aku kira obat, ternyata sumber luka terhebat. Kamu harusnya turun di Sudirman lalu lanjut ke sana."
Berakhir di MRT
Akhirnya, saya sampai di stasiun MRT. Suasana lengang, kontras dengan KRL. Lagu mendadak berubah menjadi Hero dari Mariah Carey. Masuk ke perut ular besi modern ini, banyak kursi kosong. Saya segera mengokupasinya.
Menengok kanan-kiri, terdengar sayup lagu Smile dari Jimmy Durante. Wajah-wajah muram manusia yang habis tergilas, terperas cicilan awal bulan, terjerat pinjol, sambil menatap layar Android atau iOS sebagai pelipur lara. Perjalanan tak kunjung usai, dan besok mereka akan mengulanginya lagi. Lagi dan lagi.
Seperti miras hasil patungan: kita harus jujur pada putaran. Jika ada yang terlewat, pasti ada yang marah, tak peduli murah atau mahal minumannya.
Yang terpenting, melihat kawan tumbang bukan untuk diolok harga dirinya karena muntah. Kata Subcomandante Marcos (Rafael Sebastián Guillén Vicente), "Ya basta!" (Cukup sudah). Muntah adalah mekanisme pertahanan membuang racun. Tidak muntah bukan berarti kuat, itu hanya toleransi alkohol yang terlalu tinggi—bom waktu menuju kebutaan, kelumpuhan, atau kematian.
Kita masih saja bicara di belakang, memelihara masalah sampai 300 tahun ke depan. Seharusnya masalah selesai di tempat, dibicarakan langsung, bukan lewat kabar burung. (Sampai hari ini, mengapa burung hanya berkicau?).
Dalam lamunan itu, terdengar lagu Pangalo: "Pada kawan kuberbagi janji tuk mengalahkan hari... kurindukan persahabatan sebagai piranti pengusir kebosanan namun jarak membentang maka ku sendirian."
Ya, terkadang hidup memang seperti lagu Frank Sinatra: "That's life, I said that's life. And as funny as it may seem, some people get their kicks stomping on a dream. But I don't let it get me down, 'cause this fine old world, it keeps spinnin' around."
