Teman saya, sebut saja namanya Tomi-nama samaran untuk melindungi reputasinya yang rapuh-adalah seorang kurator selera yang ketat. Di playlist Spotify-nya, kamu hanya akan menemukan musik Hip Hop penuh beat anti-otoritarian atau Jazz eksperimental yang tidak memiliki lirik, hanya dengungan. Bagi Tomi, musik adalah identitas. Dan identitas, menurut dia, harus masterpiece yang mahal.
Bulan lalu, kami bertemu di sebuah kafe di pusat kota bakpia. Tomi sudah duduk manis dengan celana jeans birunya, memegang segelas es Kopi Tani seolah itu wine mahal, sambil mengeluh tentang kenapa Hip Hop hari ini tidak seganas Bars of Death.
"Norak," bisiknya kepada saya saat intro electone mulai berbunyi. Speaker kafe mulai melantunkan Garam & Madu (Sakit Dadaku) milik Tenxi, Naykilla & Jemsii. Tomi memutar bola matanya. Ia sibuk menjelaskan kepada saya betapa struktur akord lagu Rap-dut itu repetitif dan "merusak intelektualitas".
Namun, di sinilah keajaiban—atau tragedi—itu terjadi. Saat reff masuk, saat lirik "Malam chaos ini... Ku terasa sepi ku tak mau sendiri... Ji Ro Lu..." berkumandang, saya melihat kaki kanan Tomi mengetuk lantai. Pelan. Teratur. Sesuai ketukan kendang elektronik.
Saya tersenyum kecut.
Inilah masalah kita dengan Rap-dut. Kita terlalu sibuk membangun benteng intelektual, demi terlihat berkelas di mata orang lain. Kita melabeli Rap-dut sebagai musik "tak bermakna" atau "curhatan Gen Z yang terlalu rapuh", akibatnya kita menyiksa diri sendiri dengan menahan hasrat untuk bergoyang atau menikmati dengan apa adanya.
Padahal, mari kita jujur. Rap-dut memiliki apa yang tidak dimiliki musik-musik snob kesukaan Tomi: Kejujuran yang brutal.
Jika musik Indie mengajarkan kita untuk merayakan kesedihan dengan estetis dan penuh metafora langit sore, Rap-dut tidak punya waktu untuk basa-basi itu. Jika kamu sakit hati, ya sakit hati. Hancur ya hancur. Lagi pengen, ya pengen. Chaos.
Orang meremehkan Rap-dut karena liriknya dianggap terlalu gamblang. Terlalu "curhat". Tapi justru di situlah letak jeniusnya. Narasi dalam Rap-dut memangkas jarak antara perasaan dan ekspresi. Tidak ada pretensi.
Tomi membenci genre ini bukan karena musiknya jelek, melainkan karena musik ini memaksanya menatap cermin. Cermin yang memperlihatkan bahwa di balik setelan hitam-hitam ala Antifa dan selera musik Jazz-nya, dia hanyalah manusia biasa yang pernah ditinggal nikah dan terlilit cicilan.
Lagu berakhir. Kaki Tomi berhenti mengetuk. Dia kembali menyesap es Kopi Tani-nya dan berkata, "Aransemennya lumayan, tapi liriknya tetap kacangan."
Saya hanya mengangguk. Dalam hati saya mencatat: Tomi mungkin menang dalam perdebatan soal teori musik, tapi dia kalah melawan kejujurannya sendiri. Kita semua, pada dasarnya, hanya sedang menunggu electone dan gendang remix untuk merayakan kegagalan hidup yang kita tutup-tutupi dengan rapi.
Dan itu benar. Tepat setelah lagu berhenti, Tomi mulai mengoceh soal hidupnya yang terasa getir. Ia bercerita dengan nada frustrasi tentang pertemuannya dengan seorang perempuan dari Tinder yang gagal total-sama sekali tidak berkesan, malah terasa salah sejak awal. 'Malam chaos ini...' gumamnya pelan, merangkum semua kegagalan konyol yang ia lalui hari ini.
