ESAI · CERPEN

Bujang Timpang Berang: Nyawa Senjata Serbu di Bukit Selatan

Pada 1515, ketika bulan menelan matahari di tengah hutan belantara, seorang pandai besi tua spesialis pembuat senjata menyalakan mesin bubutnya yang tidak pernah mati tujuh malam, mengakibatkan lonjakan tagihan listrik melonjak tinggi.

Onze ·November 2025 ·8 menit

Foto utama untuk “Bujang Timpang Berang: Nyawa Senjata Serbu di Bukit Selatan”

Suara dari Besi yang Lahir di Bawah Gerhana

Pada 1515, ketika bulan menelan matahari di tengah hutan belantara, seorang pandai besi tua spesialis pembuat senjata menyalakan mesin bubutnya yang tidak pernah mati  tujuh malam, mengakibatkan lonjakan tagihan listrik melonjak tinggi. Tidak jarang terjadi jegleg listrik di kediamannya karena beban listrik yang banyak. Dari mesin bubut itu lahirlah sebuah senjata serbu yang bernama Bujang Timpang Berang. Si Bujang Timpang yang murka karena dari awal kelahirannya, ada beberapa kesalahan dan bahan baku yang kurang, satu sisinya tidak pernah sempurna. Pandai besi itu berkata kepada muridnya:

“Jangan berikan Senjata ini kepada raja yang ingin menakluk. Berikan kepada mereka yang ditakluk.”Demikian malang tidak dapat ditolak kedatangannya karena murid Si Pandai Besi tersebut mempunyai banyak hutang dan hobinya menolak. Sadar, maka dia menjualnya kepada Portugis, lalu ke tangan Belanda, hingga akhirnya tersesat di tanah Rangkok Badak yang lembab dan penuh kabut. Di situ, pada awal abad ke-19, ia berdiam di sebuah kubu kecil di Pantang Terang, dijaga oleh lelaki bernama Cok Matene, yang tidak pernah tahu bahwa senjata di depanya tersebut bertuah.

Malam Ketika Bujang CurhatTahun 1853. Langit Soult malam itu berat dan merah. Rentap, lelaki dengan mata yang tajam dan dada penuh luka akibat dari pertempuran mendaki lereng kubu Patang Terang bersama pengikutnya. Angin di hutan tidak berhembus. Ia menahan napas seolah tahu sesuatu akan lahir kembali malam itu. Ketika Cok Matane tersungkur, darahnya menyentuh tanah. Pada saat itu, senjata serbu tua pojok kubu bergetar perlahan. Dari rongganya keluar uap tipis seperti vapor rasa jambu klutuk. Rentap menatap benda itu. “Senjata Serbu ini... bukan Senjata biasa,” katanya.

Salah seorang pengikutnya berbisik takut, “Itu Bujang Timpang Berang kekuatannya 100 Mbps atau 12.5 Megabita , tuan! konon kata orang, dengan mengubah tenaga gaib menjadi orbs dia mampu streaming leluhur, selagi dia juga senjata serbu tuan. Kalau salah sentuh, bisa marah.”

Rentap mendekat, menyentuh larasnya dengan telapak tangan.  Senjata itu hangat. Denyutnya lembut, seperti nadi seorang tua yang habis mabuk semalam.

“Kalau kau hidup,” kata Rentap lirih, “maka bangunlah, karena aku datang bukan untuk menakluk, tapi untuk menolak ditakluk.”

Senjata itu berdesir pelan dan dari lubangnya keluar bunyi mendengung seperti napas dalam dada bumi. Menandakan bahwa Malam itu, Bujang Timpang Berang berpihak kepada Rentap.

Api Pertama di Bukit SelatanLima tahun kemudian, tahun 1858. Tuan Muda Charlaw datang dengan bala tentara yang lebih banyak, membawa wajah yang percaya bahwa besi dan api bisa menundukkan segala. Dari sungai hingga darat, rumah dibakar. Asap menulis nama-nama pengikut Rentap yang telah gugur di langit, satu demi satu. Namun di puncak Bukit Selatan, di mana awan rendah dan hutan menyembunyikan rahasia, Rentap telah menyiapkan segalanya, mulai dari kendi tanah liat berisikan arak yang disumpal dengan kain. Jika kendi itu disulut dengan api lalu dilemparkan dan mengenai benda keras, muncul kobaran api yang sangat besar. Rentap menyiapkan barikade dari batang pohon dan batu diatas Bukit Selatan agar memperlambat gerak maju Charlaw berseta pasukannya. Bujang Timpang Berang ditempatkan di tengah kubu, dijaga dengan mantra lama dengan software anti-malware, anti-virus yang update dan tripod, yang melingkar seperti pusaran sungai.

Ketika meriam Charlaw menyalak dari lembah, Bujang Timpang Berang membalas dengan suara yang membuat burung-burung jatuh dari langit karena kekuatanya 100 Mbps atau 12.5 Megabit, di ikuti dengan Rentap dan pengikutnya menggunakan kendi yang sudah di sumpal dengan kain lalu menyulutnya melemparkannya kearah Charlaw dan pasukanya yang terlihat kobaran api lembah Bukit Selatan lalu disusul dengan anak panah dan sumpit.

“Dengarkan aku,” kata Rentap kepada para pengikutnya.

 “Gelap pasti akan datang tapi tidak hari ini, rangkul kawan kanan dan kirimu.”

Letusan pertama dari Bujang Timpang Berang menggema seperti gelegar langit pecah. Batu-batu bergetar, akar-akar menjerit. Bujang Timpang Berang mengeluarkan kekuatanya 100 Mbps atau 12.5 Megabit mengkoneksi masa lalu melalui jaringan nirkabel, dan di udara terlihat  sosok-sosok roh leluhur melintas lelaki dan perempuan dari masa purba yang datang membantu perang anak cucu mereka,

Serangan Tuan Muda Charlaw gagal. Orang-orangnya lari, membawa kisah tentang hantu, tentang senjata serbu yang menolak berhenti bernafas. Sejak hari itu, nama Rentap menyebar dari sungai sekarang hingga Gotem bukan hanya sebagai pejuang, tapi sebagai manusia yang punya sekutu dari dunia lain.Bujang Selatan dan Pengkhianatan di Kaki Bukit

Tiga tahun kemudian, 16 Oktober 1861, langit sekali lagi menebal oleh kabut dan niat jahat. Tuan Muda Charlaw datang lagi kali ini bukan hanya dengan tentara tetapi dengan akun Facebook barunya yang dia baru buat untuk merekrut lebih banyak lagi tentara dan dua belas meriam, termasuk satu yang baru, berkat bantuan platform marketplace Facebook meriam baru dan cangih  yang bernama Bujang Sado Besi Muda melawan Besi Tua. Dua zaman berhadapan di tanah yang sama.

Namun sebelum peluru pertama ditembakkan, pengkhianatan sudah lebih dulu berakar. yang masih sekutu Rentap Ijong dan bakas anak kepada Orang Kaya Gotem diam-diam berunding dengan Charlaw. Mereka diberi Gif ikan Lais dan janji follower yang banyak, lalu bersumpah setia kepada Charlaw dan tidak lupa Charlaw selfie dengan Ijong dan bakas tanda sebagai kesepakatan mereka.

Rentap tidak tahu karena jaringan di Bukit Selatan tidak ada ketika kabar itu sampai ke telinganya, wajahnya seperti batu yang retak dari dalam.

“Tanah ini bukan hanya milikku,” katanya. “Tapi mereka menjualnya seolah tanah bisa dibeli.”

Malam itu, ia memerintahkan pembakaran kubu yang dibangun Ijong dan Bakas di kaki Bukit Selatan. Api menjilat tiang dan atap, dan di dalam asap, roh-roh penjaga gunung menari dengan wajah murka. Di kejauhan, Bujang Timpang Berang bergetar menggelegar karena mendapat notifikasi dari penghianatan sakit tetapi tidak berdarah itu, seolah mengerti rasa duka tuannya.

Hari Ketika Darah Menyentuh Belerang

28 Oktober 1861. Hari ketika bumi Gotam mengeluarkan suara paling keras dalam sejarahnya. Dari arah lembah, Bujang Sado melepaskan rentetan tembakan suara Besi Muda yang rajin menabung, tidak ngomong kasar yang percaya pada kekuatan sendiri. Batu di Bukit Selatan hancur, sebagian kubu runtuh. Udara menghitam kelam membumbung di udara. Rentap menatap Bujang Timpang Berang. Meriam tua itu diam, seperti menunggu tanda.

“Sekali lagi, saudara besiku yang tidak lekang oleh waktu,” kata Rentap,“Buktikan bahwa umur tidak menghapus keberanian.”

Dentumannya menggetarkan langit. Namun di tengah pertarungan sengit, penembak Senjata Serbu Rentap terkena peluru musuh. Darahnya mengalir ke laras, bercampur dengan sulfur, arang dan kalium nitrat panas. Besi yang pernah hidup itu mendadak tersedak suaranya terhenti di tenggorokan logamnya sendiri. Darah manusia membekukan jantung besi, Bujang Timpang Berang membisu untuk selamanya tanpa kata notifikasi dan surat peringatan.

Mundur yang Bukan Kekalahan

Ketika meriamnya membisu seperti suara grup yang hanya admin saja yang boleh memberikan pesan, dari hasil analisa sosial dan analisa diri Rentap tahu medan telah berubah seperti ia yang telah hilang kabar dan berpaling dengan lainnya. Rentap memerintahkan untuk mundur, bukan kerana takut, tapi karena bumi sudah memberi tanda roh bukit telah kenyang darah hari itu.

“Kita mundur bukan karena kalah,” katanya kepada pengikutnya.“Kita mundur karena, untuk menjemput saat di mana kemenangan bukan lagi mimpi.”

Kubu dibakar, namun semangatnya tidak ikut terbakar. Rentap berjalan ke belakang bukit melintasi tenggara dan utara membawa sedikit pengikut dan bayangan masa lalunya. Di sepanjang perjalanan, ia merasa Bujang Timpang Berang tetap mengikutinya, bukan dalam bentuk besi, tapi dalam bentuk gema yang tidak pernah padam dalam dadanya. Setiap kali ia tidur, ia mendengar bisikan,

“Menghitung kelelahan harimu, akan tiba hari di mana teman tak ada yang lagi tersisa, puisi tidak lagi beracun, dan hasrat berontak hanya tinggal sisa-sisa, tapi tidak hari ini”

Bukit Tengkorak dan Roh-Roh yang Setia

Di Ujung Seluai, Rentap mendirikan kubu terakhirnya di Bukit Tengkorak. Di sana, ia hidup di antara roh hutan dan sungai. Orang-orang berkata, “setiap kali malam, bagai burung pungguk merindukan bulan, Rentap duduk di depan bara api, berbicara dengan bayangan yang tidak punya wajah.” Mereka percaya, itu adalah Bujang Timpang Berang yang datang sebagai suara-suara yang tidak bisa dibungkam walau dirajam seribu hujatan.

Rentap tidak lagi muda. Rambutnya memutih dan terancam kehilangan kampung halaman seperti kabut yang melingkari gunung, namun matanya tetap menyala, menyimpan nyala perang yang tak pernah padam. Suatu malam, ia berkata kepada pengikutnya, “Orang-orang Charlaw boleh punya seribu meriam. Tapi kita punya satu hal yang tidak bisa mereka tembak: keberanian untuk berdiri, meski dunia memaksa untuk berlutut.”

Akhir yang Tidak Pernah Selesai
Tahun-tahun berikutnya, Rentap berpindah ke Karatang. Di sanalah, menjelang senja yang panjang, ia menghembuskan napas terakhirnya. Tahun itu 1870, atau mungkin 1863, sejarah tak sepakat. Tapi bumi tahu tanggalnya. Ketika tubuhnya diturunkan ke tanah, langit Karatang berubah menjadi gelap kelam dan turun hujan yang airnya berwarna merah darah. Dari arah Bukit Selatan terdengar gema aneh satu dentuman tunggal yang tak diketahui dari mana asalnya. Orang-orang menoleh, tidak ada asap, tidak ada meriam, tapi suara itu jelas: suara Bujang Timpang Berang yang memanggil tuannya pulang.

Kubur Rentap yang disebut lumbung kini terletak di Bukit Tengkorak, di antara dua sungai Bais dan sungai Wanda. Kadang-kadang, orang yang lewat di malam sunyi mendengar gema pelan seperti besi menggesek batu. Mereka bilang itu bukan angin. Itu nyawa Senjata Serbu yang masih bernafas.

“Aku tidak pernah mati.  Aku hanya menunggu dalam doa-doa amarah yang kalian lantunkan, dalam darah yang mengalir di nadi kalian, masih ada sisa perjuanganku. Dan di suatu hari nanti, kalian akan memanggilku, bukan dengan nama, tapi dengan tindakan.”