Nama “Andrie Yunus” terlambat dikenal oleh publik dibandingkan wajahnya. Ketenaran namanya menyusul di berbagai platform media sosial dan media massa setelah peristiwa Fairmont Method pada tahun 2025 lalu. Demikian candaan kami dengan teman-teman menamai aksi trobos ruang rapat DPR yang tertutup untuk membahas RUU TNI.
Aksi yang tak matang direncanakan itu ternyata membuat wajah Andrie terkenal sebelum namanya di publik. Postur yang tinggi, sedikit gemuk, gondrong, suara yang lantang dan penampilan yang tidak jauh berbeda dengan intel penguasa, berhasil memanipulasi penjagaan ketat rapat tertutup itu. Alhasil Andrie satu-satunya orang yang menjadi sorotan di aksi tersebut dibandingkan teman-teman yang lain. Nyali! Ya, sedikit gila juga.
Beberapa bulan setelah peristiwa Fairmont Method, aku bertemu Andrie. Kusebut-sebut istilah Fairmont Method itu.
“Wahh… udah dong,” sahut Andrie sambil tertawa.
“Aku agak trauma dari kejadian itu,” sambungnya, sembari garuk-garuk kepala dan tertawa lirih, khas cara tertawa Andrie.
Setelah kejadian itu membuatnya viral, ia dan teman-teman yang lain menghilang sejenak untuk meredakan situasi dan mengamankan diri sebab kantor KontraS beberapa hari mendapat teror dari tentara. Siapa lagi kalau bukan dari tentara?! Pantaskah disebut ‘bukan teror’ kalau dengan jelas mobil militer parkir lama di depan gerbang Kontras? Kondisi ini merusak psikologis. Bagiku KontraS sudah terbiasa dengan teror semacam ini tapi bukan manusia kalau memang peristiwa Fairmont tidak menyisakan sedikit trauma–ya yang dilawan adalah institusi militer.
Meski teror udah biasa datang, orang-orang ini sudah sinting mungkin. Terutama Andrie. Di beberapa kesempatan yang berhubungan dengan isu militerisme, selalu ada Andrie dan ia tidak pernah absen. Meski pun Fairmont Method tidak bisa mencegah RUU TNI gagal disahkan, dari gugatan hingga aksi-aksi kecil, Andrie tidak hanya sekedar hadir meramaikan tapi ia mengambil peran penting di dalamnya. Terutama dalam investigasi yang dikeluarkan oleh Komisi Pencari Fakta (KPF) pada aksi Agustus tahun lalu, 2025. Andri menjadi penulis dan investigator. Rasa traumatis yang dialaminya sepertinya telah membakar dirinya dari dalam untuk terus berjalan hingga menemui peristiwa ‘malam Salemba’ yang mengancam nyawanya.
Upaya pembunuhan Terhadap Andrie
Beberapa hari ini, aku dan teman-teman mau membuat podcast tentang isu militerisme. Kami menyepakati Andrie sebagai salah satu narasumber. Isu Siaga 1 sedang ramai diperbincangkan: apakah penetapan Siaga 1 adalah langkah tepat untuk merespon situasi global akibat perang AS-Israel di Iran?
Tapping podcast mulanya direncanakan jam 7 malam karena satu narasumber lain sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Kami menyiapkan semua alat rekam sambil berbuka puasa bersama, dan akhirnya molor sampai sekitar jam 9 malam. Setelah semuanya sudah siap, tiba-tiba ada jurnalis yang meminjam kamera untuk merekam wawancara teman kami yang lain. Akhirnya jadi molor lebih malam lagi. Mungkin jam sekitar 10 malam podcast baru mulai direkam.
“Wah ini podcast nya berdua doang…” kata Andrie sebelum tombol record ditekan. “Nanti kayak Haris dan Fathia, berdua doang abis itu dikriminalisasi…” Celetukan ini membuat kami yang ada di studio YLBHI tertawa.
Ini podcast lebih lama dari yang diperkirakan. Berlangsung selama satu jam lewat 33 menit sebelum diedit. Podcast terlama yang pernah aku rekam. Mereka berdua asik bercerita pengalaman Fairmont Method, proses gugatan judicial review hingga situasi terkini tentang militer. Saking lamanya, aku bete ingin segera memberi aba-aba ke mereka untuk sudahi ngobrol dan merokok di luar. Tapi mereka tetap asik mengobrol.
Sekitar jam 11 malam, enam orang yang terlibat dalam podcast termasuk aku, tidak langsung pulang. Usai membereskan seperangkat alat-alat perekam, kami masih sempat ngobrol-ngobrol sebentar. Andrie pamit ingin pulang lebih dulu. Obrolan akan beransur lama, mungkin sampai jam 1 pagi. Sebelum rekaman podcast, Andrie mengunjungi beberapa tempat untuk menghadiri pertemuan, karena itu ia ingin lebih dulu istirahat.
Ia turun ke lantai satu, tidak langsung pulang. Ada petugas yang berjaga dan Andrie masih sempat ngobrol bersama. Suasana sepi. Di depan gerbang YLBHI ada tempat yang biasa ditongkrongi wartawan malam itu juga sepi, tidak ada orang. Dan gerbang di Jalan Mendut ditutup. Kami semua harus lewat belakang kantor YLBHI kalau mau pulang. Andrie lewat jalan itu dan lalu ke Cikini untuk mengisi bensin.
Sekitar jam 12’an lebih kami bersama turun ke bawah dan pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di kos, baterai hape sisa 1%, aku baca pesan masuk di grup chat whatsapp, “Andrie disiram air keras”. Langsung hapeku mati. Buru-buru aku ambil charger KW-ku, dan cas hape. Sialnya gara-gara charger KW aku harus menunggu lama agar hapeku menyala.
Di saat yang bersamaan aku cemas dan tak percaya. Jarak antara kami pulang dan Andrie tidak begitu lama, kurang dari satu jam. Sambil menunggu hape menyala, aku mengingat kembali situasi di sekitar YLBHI. Sepi. Tak satupun manusia yang kujumpai di Jalan Mendut. Sementara jalan Diponegoro masih ramai kendaraan berlalu lalang. Lantas, kalau memang benar, di mana Andrie disiram? Tak mungkin juga orang-orang bercanda di tengah malam dengan memberi kabar buruk.
Setelah hapeku menyala. Aku lihat semua pesan grup. Hanya satu grup yang mengabarkan kejadian ini, dan obrolan ini tidak menyebar ke banyak orang–atau banyak grup. Andrie sudah berada di RSCM, aku tanya beberapa orang yang ada grup yang sudah berada di rumah sakit. Temanku D., sudah berada di sana. Ia tak jadi pulang. Aku menelpon beberapa orang, tak ada yang angkat untuk memastikan kebenaran berita ini. Karena tidak ada yang angkat, dan D. belum membalas pesan grup lagi, aku ambil kunci motor dan langsung menuju rumah sakit.
Di rumah sakit teman-teman sudah banyak. D. sudah di sana dan menghubungi beberapa teman. Z. dan temannya, dari pada menunggu di luar rumah sakit, mereka berinisiatif datang ke tempat kejadian untuk meminta CCTV. Mereka sudah dapat dua video, dan mereka menunjukkan video kepadaku. Dua orang menggunakan motor Beat putih. Pengemudinya mengenakan helm, sementara penyiram yang duduk di belakang tidak. Penyiram hanya menggunakan baff di muka. Lokasi kejadian dan rumah sakit berdekatan, jalan kaki tak sampai 3 menit. Resolusi video CCTV bagus namun muka tidak begitu jelas dan plat nomor tidak terlihat.
“Engga ada CCTV lain?” kataku. Terlihat dari video, Andrie diikuti dari belakang. Sebelum sampai perempatan jalan–yang ada CCTV–Andrie didahului motor beat itu lalu memutar balik. Saat ini posisi Andrie dan pelaku berhadapan. Ada polisi tidur, dan ketika Andrie mau belok ke arah jembatan dengan perlahan, motor pelaku itu pelan sejenak dan langsung menyiram Andrie, lalu kabur dengan cepat.
Tanpa pikir panjang aku mengajak Z. untuk memetakan CCTV dari arah rumah sakit ke kejadian. Berdua kami menemukan CCTV sebelum lokasi kejadian. Di dekat kantor Kemenhan, ada CCTV dua arah lokasi yang dijangkaunya tak terlalu gelap. Asumsiku pelaku bisa terlihat jelas. Hanya saja mungkin susah untuk mendapatkan aksesnya. Dan satu lagi aku tak tahu miliki siapa.
Sambil mencari, satu motor mendekatiku sebelum aku jalan terus menuju lokasi kejadian. “Sudah ada polisi di sana, olah TKP,” kata pengendara motor yang tak kukenal itu. Dan mengajakku untuk kembali ke rumah sakit lagi.
Kondisi Andrie
Teman-teman sudah ramai berdatangan. Berita penyiraman air keras terhadap Andrie belum dinaikkan di media sosial. Menunggu keputusan dari KontraS dan pertimbangan-pertimbangan lain tentunya. Besok baru disusun bagaimana enaknya, kata salah satu orang.
Hari sudah menjelang pagi, adzan sudah berkumandang. Sebelum aku pulang untuk istirahat, aku ingin melihat kondisi Andrie. Aku dan 3 orang lain masuk ke dalam. Andrie sudah terbaring dengan kondisi setengah badan melepuh. Kulitnya yang terkena air keras berwarna gelap sedikit abu-abu. Mungkin lebih mirip warna perak agak sedikit gelap. Beberapa percikan darah ada di badan dan wajahnya.
Aku masuk ke ruangan, melihat setengah badan Andrie sudah terkontaminasi air keras dengan mata yang memutih bercampur kemerahan; mata kanannya terbuka sedikit dan mengeluarkan air mata; bibirnya memucat dan sebagian lainnya normal seperti biasa, yang menunjukkan dengan jelas perbedaan efek dari air keras itu. Rambutnya yang gondrong dipotong sampai ke leher bawah kuping. Dari ini terlihat jelas leher Andrie melepuh.
Ia sedikit senyum kecil dan mengangkat tangannya ke aku. Senyum kecil itu sedikit berat, mungkin ia menahan sakit dan berusaha tetap tegar di depan teman-temannya. Aku mengangkat tangan kiriku, sembari membalas senyum. Sedih, cemas, dan entah apa harus aku maknai situasi emosional seperti ini.
Dimas, koordinator KontraS, sudah ada di dalam sebelum aku masuk ruangan. Matanya berkaca-kaca, seolah ingin mengeluarkan air mata. Ia berusaha tegar melihat teman seperjuangannya terbujur kesakitan. Tak sepatah kata pun aku keluarkan. Jangankan untuk mengajak Andrie berbicara dan menanyakan apa yang terjadi, melihat kondisi badannya saja, diam adalah cara terbaik saat itu yang harus aku lakukan.
“Ada update dari dokter?” tanyaku pada Dimas.
“24% badannya terbakar,” ia menjawab lirih.
“Mata bagaimana?”
“Mungkin nunggu pagi nanti baru dapat kabar dari dokter spesialis.”
Aku melihat kertas daftar pemeriksaan yang sudah dilakukan perawat di samping Andrie. Lalu kertas itu diambil perawat, dan menanyakan kepada Andrie terkait perawatan lanjutan untuk pembersihan kulit yang terbakar. Jika setuju, maka tindakan itu akan segera dilakukan. Tindakan ini sungguh sakit. Sulit aku bayangkan kulit yang melepuh itu dibersihkan dan digosok hingga menyisakan lapisan kulit yang merah.
Satpam masuk, melihat di ruangan ada orang banyak. Beberapa diminta untuk keluar. Aku tanpa sepatah kata pun, diam, melihat Andrie lagi yang mulai tertidur dengan rasa sakit, tanpa pamit dan obrolan apapun keluar ruangan. Pulang.
Ini kah harga yang harus dibayar akibat mencintai negeri ini secara berbeda? Andrie diperlakukan seperti ini bukan karena podcast yang direkam sebelum kejadian–yang belum di publish saat tulisan ini dibuat–seperti yang diberitakan oleh banyak media dan menjadi perbincangan banyak orang. Andrie yang kukenal, sejak penetapan RUU TNI yang menjadi tombak kembalinya militerisme di Indonesia pasca runtuhnya Soeharto, ia aktif dalam menolak dengan cara apapun yang bisa dilakukannya. Sebisa mungkin.
Ia sudah berjuang sehormat-hormatnya, dengan segenap keberaniannya. Dan aku yakin ia tak akan berhenti sampai di sini.
