Terkadang Aku sudah bosan mendengar perkataan "kematian akan datang kepada siapa saja". Seperti beberapa minggu belakangan ini, mimpiku soal kematian. Aku seolah-olah sedang bertatapan dengan beberapa malaikat yang menanyakan amal apa yang sudah kulakukan. Tentu itu jawaban yang tidak bisa dijawab tergesa, seperti sedang menahan kencing lalu ditanyai mau WC duduk atau jongkok.
Jika dipikir, mimpiku soal kematian, apakah karena aku selalu memikirkan orang yang sudah mati atau sering melamun dari jendela kaca lantai lima belas sembari menimbang apa rasanya menjadi orang yang loncat bunuh diri? Memang terdengar seperti orang yang sakit mental, tapi mungkin saja ada beberapa lagi yang memikirkan hal yang sama, bedanya tidak berlarut-larut sepertiku.
Namun setelah aku telaah, hal seperti ini sering aku lakukan ketika sendirian, apalagi karena aku tidak punya teman untuk menceritakan mimpi-mimpiku soal kematian. Aku ceritakan pun mungkin jawab mereka, "itu karena kamu belum move on dari kehilangan". Sejak itu aku memilih untuk memendam saja, walaupun asumsi ku itu terlalu cepat.
Anehnya ada beberapa mimpi burukku soal kematian terjadi. Aku pernah mimpi Ayahku mati dan saat ku bangun, jalanku cepat menghampiri dipan Ayahku untuk memastikan perutnya masih kembang kempis, syukurlah ternyata Ia masih hidup. Namun di tahun berikutnya Ia sungguh tidak bernafas lagi.
Mimpiku berikutnya soal gigi, seperti mitos kebanyakan orang jika gigi atas copot dalam mimpi maka ada orang terdekat yang akan mati. Benar saja Ibuku meninggal seminggu kemudian. Lalu sekarang aku sering bermimpi menyaksikan diriku sendiri mati, apakah ini sebuah kebetulan lagi?
Sejak hari itulah aku jadi Sunyaragi, di mana Ibu dan Ayahku sudah benar-benar tidak ada. Mungkin sambil menunggu mimpi ketigaku menjadi kenyataan dan menganggukan kata orang-orang "kematian akan datang kepada siapa saja". Tapi kata itu selalu keluar dari manusia yang belum hilang keduanya, setidaknya mereka masih punya salah satunya.
Aku Sunyaragi saat dunia seperti ujung tombak yang siap menusukku kapan saja. Aku Sunyaragi saat yang kupunya benar-benar ragaku sendiri. Sepertinya Tuhan sedang melatihku menghadapi kematian dan saat tiba waktunya, mimpi ketiga yang kukatakan tadi tidak jadi semenakutkan itu. Apakah Tuhan selalu mengetes hambanya dengan mimpi?
Tentu aku masih takut mati, bagiku saat ini aku sedang menikmati menjadi Sunyaragi. Suatu hari nanti akan Aku temukan satu, dua, tiga atau puluhan teman yang siap mendengarkan cerita mimpi burukku, tapi bukan di Ibu Kota ini. Di sini orang terlalu sibuk mengais pundi ketimbang harus mendengarkan ocehan mimpi yang hanya bunga tidur. Terlebih pemeran utamanya adalah Aku.
Di saat aku sudah tidak menjadi Sunyaragi, mimpiku ini sudah menjadi lembaran kertas yang di baca semua orang. Di situlah Aku sudah punya banyak teman yang mendengarkan. Dan saatnya Aku berani kurang ajar membelokkan arti dari rencana Tuhan. Yang ternyata, latihan kematian di mimpi itu bukan untuk membiasakanku menghadapi kesendirian, tapi untuk membuatku bertahan menghadapi Sunyaragi, agar Aku tetap hidup dengan baik.
