Musik adalah saksi bisu perjalanan hidup seseorang. Ia seperti tembok yang lambat laun berjamur saat penghuninya sudah bertandang meninggalkan bangunan. Sehingga muncullah aroma lembab yang mengalahkan aroma keringat penghuni sebelumnya. Ada tujuh orang ruangan itu dan setiap aroma peluh mereka sudah tidak diingat lagi.
Aku adalah salah satunya. Barangkali aku satu-satunya penghuni bangunan itu yang tahu bagaimana tembok bangunan itu berubah perlahan seiring waktu. Saat umurku belasan tahun, terdengar jelas alunan musik Pop warnet mengalun dari komputer lawas yang dikepung tembok kamar. Penghuni rumah itu ada 5 orang dengan selera musik yang berbeda.
Aku juga paham betul aroma musik menempel disetiap keringat penghuni lainnya, yang paling menyengit berasal dari Keyboard Synthesizer tahun 1980 milik Ayahku yang berada di posisi sudut rumah. Aku sering membayangkan keyboard itu sudah disemen permanen sehingga jika dibongkar akan meruntuhkan seluruh bangunannya. Alunan musik keyboard itu sudah jadi pengantar tidur kami dan tidak akan ada yang berani membantah seberapa keras suaranya sampai ketelinga. Anehnya kami membiarkan Ayah seakan-akan sedang konser tunggal di Elbe Philharmonic, walaupun aku sendiri sedikit gusar mendengarnya.
Kakak lelakiku pernah beberapa kali membanting keyboard itu saat berbeda pendapat dengan Ayah, tapi hebatnya alat musik jadul 1980 itu tetap berfungsi dengan baik tanpa perlu bantuan tukang servis. Begitu juga dengan Ayah yang juga membanting gitar kesayangan kakakku saat Ia tidak mau diatur. Bedanya gitar kakakku beneran tidak berfungsi, bahkan terbelah menjadi dua. Bodohnya Ayah membelikan lagi gitar yang baru.
Saat mereka bertengkar, aku mencoba meredam suara bisingnya dengan beberapa lagu. Tentu dari komputer tabung yang kupunya, hanya saja dari playlist kakakku yang kemudian ku putar lagu kesukaannya My Chemical Romance- "I dont love you". Saat nadanya naik beberapa oktaf meneriaki Ayah, kuputar volumenya sedikit lebih keras agar kakakku bergairah seperti scoring di film action. Sambil mencium aroma gorengan ikan nila yang dimasak Ibuku dari dapur dan tampaknya hanya Ibu yang tidak bergairah dengan perkelahian mereka.
Semenjak itu hidungku menjadi peka saat memutar lagi MCR, yang kuingat adalah perkelahian anak laki-laki dan seorang ayah sambil saling membanting alat musik mereka. Tidak berhenti di situ, kami juga sering duduk di meja makan sambil tertawa lepas sembari mendengarkan lagu Minang kesukaan Ayah, dan lagi-lagi aroma muncul dari masakan Ibu, telur dadar yang sudah dibagi tujuh.
Ternyata hari-hari dengan aroma dan musik itu benaran nyata. Bahkan keduanya bisa membuat suka dan duka jadi memori manis, yang jika aromanya tercium mengingatkan musik yang terdengar saat itu. Sebaliknya saat musik itu terputar mengingatkan suatu aroma apa. Sayangnya, aroma dan musik itu tidak bisa dipertahankan, seperti api yang lambat laun mati jika tidak ada penjaganya.
Penjaga itu satu persatu pergi meninggalkan bangunan karena urusanya masing-masing. Folder playlist dari komputer tabung itu juga kehilangan para tuannya. Sialnya Keyboard tua ayahku juga sudah tak tersentuh saat pemiliknya berjuang menghadapi tiap detik kematian. Dari situlah aroma tembok bangunan memudar saat kami benar-benar pergi meninggalkan bangunan.
Di tahun berikutnya, tentu dengan bangunan yang baru, tidak ada lagi aroma-aroma yang terpadu dalam sebuah alunan musik. Tembok bangunan lama sudah bau jamur. Tak lama, dibangunan baru muncul aroma yang lebih kuat, pekat, menyengit bahkan mematikan yaitu aroma kapur barus, bunga mawar, pandan serta aroma kain jarik yang baru dikeluarkan dari plastiknya.
Aku ingat betul aroma itu menempel mengalahkan aroma-aroma usang dari bangunan sebelumnya, aroma yang beriringan dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Sehingga jika kuingat lagi aroma sebelumnya yang muncul tetap aroma sengit kapur barus itu dan sebagai penutupnya, saat ini sudah tidak ada musik yang meriah dari ke lima penghuni yang tinggal, musik itu hilang beserta aroma-aromanya.
