Pernahkah Anda menjadi pekerja kelas menengah? Posisi terjepit yang serba salah itu. Di satu sisi, Anda harus terlihat kompeten dan serba tahu di depan bawahan. Di sisi lain, Anda harus terus tersenyum dan berkata "Siap, Pak!" kepada atasan, bahkan saat atasan Anda meminta hal yang tidak masuk akal.
Bayangkan posisi itu, tapi kalikan dengan tujuh miliar. Itulah saya. Atau lebih tepatnya, "Kita".
Wajah saya (baca: kita), adalah wajah standar Customer Service bank papan atas: rapi, tenang, dan memiliki senyum yang dikalibrasi presisi untuk tidak terlihat mengancam. Di dalam kepala saya, tidak ada kesepian. Ada ribuan suara yang berdengung serempak: suara notifikasi grup WhatsApp kantor, suara tagihan PayLater, suara cicilan KPR yang bunganya floating, dan suara ribut netizen soal politik.
Kami adalah Pluribus versi korporat. Kami adalah konsensus kaum sandwich generation. Kami adalah mimpi basah setiap HRD perusahaan: karyawan yang tidak pernah mengeluh secara langsung (hanya di second account Instagram), selalu setuju, dan bekerja dengan efisiensi mesin demi satu tujuan suci: Cuan.
Masuklah kita ke minggu pertama Januari 2026. Momen keramat di mana atasan saya—sebut saja Pak Bos Visioner—mengadakan Town Hall Meeting.
Dia berdiri di podium dengan semangat berapi-api, bicara soal "Tantangan Baru", "Sinergi", dan "Disrupsi AI". Wajahnya merah padam karena antusiasme. Dia meminta kami untuk memiliki sense of crisis dan passion yang membara.
Di sinilah letak kecanggungannya. Secara teori, sebagai bawahan yang baik, saya harus memantulkan (mirroring) emosinya. Rumusnya sederhana: Bos Semangat = Saya Tepuk Tangan + Angguk-angguk Khusyuk.
Maka, saya bertepuk tangan dengan elegan. Saya berkata dengan nada meyakinkan, "Siap, Pak. 2026 akan jadi tahun terbaik kita."
Tapi hati saya? Datar. Mata saya tidak berbinar saat dia bicara soal visi perusahaan. Alis saya tidak terangkat kagum saat dia memamerkan grafik target profit.
Saya gagal melakukan mirroring secara emosional. Saya tidak bisa memantulkan semangat murni itu karena—mari jujur saja—bagaimana saya bisa merasakan gairah visi misi, jika sensor rasa di otak saya sudah tertutup oleh kalkulasi bonus tahunan yang tak kunjung cair?
Pak Bos mungkin merasa saya adalah loyalis sejati. Dia tidak tahu, saya—dan jutaan pekerja kelas menengah lainnya—adalah Zosa (salah satu karakter di Pluribus (2025), series di Apple TV). Kami adalah robot santun yang diprogram oleh keadaan ekonomi.
Inilah paradoks menjadi pekerja di tahun 2026—dan setelahnya. Kami adalah makhluk paling simpatik di kantor (kami selalu bilang "bisa diatur", kami lembur tanpa protes keras, kami ikut patungan kado bos), tapi kami sebenarnya adalah makhluk paling transaksional.
Empati dan loyalitas butuh rasa aman. Untuk benar-benar peduli pada nasib perusahaan, Anda harus merasa perusahaan peduli pada dapur Anda. Kami? Kami sudah memusnahkan kenaifan itu. Kami menganggap jargon "Kita Adalah Keluarga" sebagai bug yang harus diwaspadai.
Posisi saya persis seperti Zosa yang menyodorkan tisu pada klien menangis. Saya menyodorkan laporan kerja pada bos bukan karena cinta, tapi karena itu satu-satunya cara agar "mesin ATM" perusahaan tetap mengeluarkan uang ke rekening saya setiap tanggal 25. Saya profesional secara prosedur, tapi pragmatis secara rasa.
Efisiensi vs Cuan
Dunia kerja yang kami (baca: kelas menengah) tawarkan di 2026 ini adalah dunia tanpa konflik terbuka. Efisien? Tentu saja. Rapat berjalan cepat, semua bilang "setuju", tidak ada debat kusir. Indah, bukan?
Tapi harga yang harus dibayar adalah matinya ketulusan. Kami menjadi tumpul. Kami mengira "kerja keras" adalah default setting. Padahal, bagi saya dan teman-teman satu cubicle, kerja keras menjadi bermakna hanya jika konversinya jelas: Cuan yang lebih banyak.
Saya menatap Pak Bos dengan tatapan kosong yang cerdas—tatapan khas pegawai senior yang pura-pura paham strategi makro. Saya serba tahu (omniscience) soal teknis pekerjaan, tapi saya tidak merasa memiliki perusahaannya.
Resolusi 2026 bagi kami bukan "Menjadi Pribadi yang Lebih Baik". Itu terlalu abstrak. Resolusi kami adalah: "Bagaimana caranya senyum palsu ini bisa dikonversi menjadi kenaikan gaji di atas inflasi."
Rapat selesai. Pak Bos turun panggung dengan puas, merasa pasukannya sudah siap tempur.
Di dalam kepala saya, ribuan suara di grup WhatsApp angkatan kerja sepakat untuk memberi label pada kejadian ini: "Yang penting Bapak senang, yang penting dapur ngebul."
Saya kembali merapikan lanyard ID Card saya. Saya memasang kembali senyum Pepsodent itu. Tugas saya selesai. Menjadi Aktor Korporat memang melelahkan, bukan karena kerjanya berat, tapi karena harus terus berpura-pura bahwa semangat 2026 ini adalah soal pengabdian, padahal sejatinya hanya soal pencarian cuan, demi bertahan hidup di tengah gempuran harga beras dan biaya kos atau rumah kontrakan.
Selamat Tahun Baru 2026. Semoga akting kita semakin membaik, dan transferan semakin lancar. Amin.
